KASONGAN – Sedikitnya 135 hektare lahan terbakar di kawasan Kota Kasongan dan sekitarnya sejak Juli hingga September 2026, berdasarkan data BPBD Katingan. Di tengah angka tersebut, karhutla kembali muncul di sekitar Perumahan Haing Jaya II, Kelurahan Kasongan Lama, Kecamatan Katingan Hilir, Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.
Kobaran api dari lahan sekitar permukiman dilaporkan membesar dan mendekati sejumlah rumah warga. Warga kemudian berupaya melakukan pemadaman menggunakan alat seadanya sebelum tim penanganan karhutla tiba.
Nirwansyah mengatakan ia mendapat informasi kebakaran dari keluarganya ketika sedang tidak berada di lokasi.
“Saya langsung pulang menuju rumah saat mendapat telepon dari keluarga,” terang Nirwansyah.
Menurut dia, warga sempat kesulitan meminta bantuan karena tidak mengetahui nomor layanan pemadam.
“Sempat kebingungan mencari nomor pemadam,” ujarnya.
Setelah petugas berhasil dihubungi, tim penanganan karhutla Kabupaten Katingan datang dan langsung melakukan pemadaman. Hingga berita ini ditayangkan, proses pengendalian api masih berlangsung.
Kepala Pelaksana BPBD Katingan Markus mengatakan pemadaman melibatkan unsur gabungan untuk mencegah kebakaran meluas.
“Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan terus berjibaku melakukan upaya pemadaman di lapangan,” ungkap Markus.
Menurutnya, data 135 hektare hanya menggambarkan kebakaran di kawasan pusat Kota Kasongan dan sekitarnya.
“Jika total luasan Karhutla secara keseluruhan di tingkat kabupaten diperkirakan jauh lebih besar dibanding angka yang tercatat saat ini,” jelas Markus.
Karena pendataan belum mencakup seluruh kecamatan, pemerintah masih membutuhkan pemutakhiran data untuk mengetahui luas keseluruhan lahan terbakar di Kabupaten Katingan.
Di lapangan, BPBD meningkatkan patroli dan pemantauan pada wilayah yang memiliki potensi kebakaran.
“Kami dari Pemerintah daerah hingga kini juga terus melakukan pemantauan intensif dan patroli, di titik-titik rawan,” kata Markus.
Upaya pemadaman juga menghadapi persoalan ketersediaan sumber air selama kemarau. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam penanganan titik api.
Markus menegaskan pencegahan dan kecepatan respons harus berjalan bersamaan agar api tidak meluas.
“Yang paling utama adalah bagaimana bersama-sama mencegah terjadinya Karhutla dan apabila terjadi, dapat segera ditangani agar tidak meluas,” tegas Markus.
Kebakaran di Haing Jaya II kini menjadi titik perhatian karena berada di sekitar permukiman. Petugas masih melakukan pemadaman dan pemantauan untuk memastikan api tidak bergerak menuju rumah warga.(din/*)












