KASONGAN – SMAN 2 Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, mengukir prestasi nasional setelah menjadi juara pertama Grand Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu 26 Agustus 2026.
Sekolah asal Katingan tersebut mengungguli SMAN 8 Jakarta Selatan yang berada di posisi kedua. SMAN 1 Tanjung Selor, Kalimantan Utara, menempati posisi ketiga, sedangkan SMAN 2 Bogor berada di peringkat keempat.
Kemenangan itu menjadi semakin dramatis karena tim Katingan harus menjalani pertandingan dengan hanya sembilan peserta.
Salah satu anggota tim, Abdul Malik, tidak dapat mengikuti pertandingan setelah mengalami kejang dan menjalani perawatan di Poliklinik MPR RI. Meski demikian, ia tetap mengikuti perjuangan rekan-rekannya melalui siaran langsung YouTube.
“Saya sempat deg-degan, bangga, dan merasa bersalah karena hanya bisa menyaksikan siaran langsung perjuangan teman-teman di final melalui YouTube dari tempat tidur di Poliklinik MPR,” ungkap Abdul Malik.
Ia mengatakan tetap memberikan dukungan kepada teman-temannya meski tidak dapat turun langsung ke arena perlombaan.
“Tetapi sepanjang lomba saya juga mendoakan agar teman-teman mampu mencapai hasil terbaik,” lanjutnya.
Setelah timnya dinyatakan sebagai juara, Abdul Malik bahkan datang menggunakan kursi roda untuk mengikuti prosesi penyerahan hadiah.
Ia juga mengapresiasi tenaga medis yang memberikan pertolongan setelah dirinya mengalami kejang.
“Terima kasih kepada semua pihak di bagian kesehatan Poliklinik MPR. Mereka telah bekerja dengan baik sehingga kondisi saya semakin membaik,” ujar Abdul Malik.
Guru pembimbing SMAN 2 Katingan Kuala Indah Fitriani mengatakan pihak sekolah sebelumnya tidak memasang target terlalu tinggi.
“Tahun 2025 kami juga bermain hingga ke tingkat nasional, tetapi kalah. Kali ini kami berharap bisa sampai final, namun tidak terbayang akan menjadi juara,” ungkap Indah.
Ia mengatakan latar belakang sekolah yang berada di daerah tidak menjadi alasan bagi siswa untuk minder.
“Maklum, kami berasal dari sekolah kecil yang ada di pelosok desa,” katanya.
Saat jumlah anggota tim berkurang, Indah terus memberikan motivasi kepada peserta yang bertanding.
“Saya sampaikan kepada anak-anak, jangan menyerah meskipun jumlahnya tidak sama. Terus berjuang karena pada sesi rebutan, setiap orang bisa memberikan kontribusi besar untuk menang,” ujarnya.
Kemenangan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa sekolah dari daerah mampu bersaing dengan sekolah dari kota-kota besar di tingkat nasional.(DN/*)











