DAERAHKalimantan Tengah

OMC Kalteng Gagal Hujan, Karhutla Masih Mengancam

2
×

OMC Kalteng Gagal Hujan, Karhutla Masih Mengancam

Sebarkan artikel ini
Prajurit TNI AU menaburkan garam saat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

PALANGKA RAYA – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah belum menghasilkan hujan hingga Kamis, 3 September 2026, karena pertumbuhan awan di wilayah sasaran masih sangat rendah. Kondisi itu membuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap bergantung pada operasi darat dan udara.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan OMC telah dilakukan sekali dengan penyebaran 800 kilogram garam selama dua jam delapan menit.

“Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman karhutla di Kalimantan Tengah masih mengandalkan operasi darat dan udara,” kata Berton.

BNPB mencatat sekitar 10.700 personel satuan tugas bergerak di 10 kabupaten/kota di Kalteng. Operasi udara menggunakan dua armada dengan durasi penerbangan tiga jam 12 menit.

Hingga 1 September 2026, masih terdapat 50 titik api dengan luas lahan terbakar lebih dari 77 hektare. Sementara lahan yang berhasil dipadamkan mencapai lebih dari 48 hektare.

Tekanan karhutla juga terasa pada kualitas udara. BNPB menyebut kualitas udara di wilayah terdampak berada dalam kategori sangat tidak sehat dengan jarak pandang sekitar tiga kilometer.

“Kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat dengan jarak pandang sekitar tiga kilometer,” cetus Berton.

BNPB memastikan penanganan tetap berjalan meski kondisi atmosfer tidak mendukung rekayasa cuaca. Pemerintah mengerahkan unsur darat dan udara secara bersamaan untuk membatasi penyebaran api.

“Aktivitas masyarakat di Kalimantan Tengah tetap berjalan seperti biasa,” ujar Berton.

Pada saat yang sama, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut hotspot kembali meningkat di Kalteng dan Kalimantan Barat setelah sebelumnya menunjukkan tren penurunan.

“Artinya, prioritas utama sekarang ini secara nasional tetap Kalbar dan Kalteng,” kata Raja Juli.

Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada efektivitas pemadaman darat, dukungan operasi udara, serta peluang pertumbuhan awan yang dapat menunjang hujan.(fit/*)

error: Content is protected !!