DAERAHKapuas

Kemarau Panjang, Warga Kapuas Bergantung pada Air Galonan

1
×

Kemarau Panjang, Warga Kapuas Bergantung pada Air Galonan

Sebarkan artikel ini
Warga membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama musim kemarau di Kapuas.

KUALA KAPUAS – Musim kemarau membuat sebagian warga Kabupaten Kapuas harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika sumber air alternatif berkurang dan aliran air perpipaan di sejumlah kawasan tersendat.

Warga bahkan mengandalkan air galonan dengan harga sekitar Rp5.000 per galon untuk kebutuhan memasak dan keperluan rumah tangga.

Salah seorang warga Jalan Tjilik Riwut, Isan, mengatakan pembelian air menjadi pengeluaran tambahan yang harus ditanggung selama kondisi kemarau.

“Saya belinya per galon, se-galon Rp5 ribu, sumbernya air leding,” kata Isan, Minggu (6/9/2026).

Kondisi tersebut muncul ketika sumber air lain ikut menurun akibat kemarau. Warga yang sebelumnya memiliki beberapa pilihan sumber air menjadi lebih bergantung pada pasokan yang dijual oleh pedagang.

Persoalan kualitas air juga menjadi perhatian. Sungai Kapuas yang selama ini menjadi salah satu sumber air masyarakat disebut belum dapat diandalkan di sejumlah kawasan karena kualitas air menurun akibat intrusi air laut.

Di sisi lain, gangguan aliran air perpipaan menambah tekanan bagi warga. Pembelian air secara berulang berarti menambah pengeluaran rumah tangga, terutama bagi masyarakat yang tidak memiliki sumber air alternatif.

Isan berharap pemerintah menyiapkan pasokan air yang dapat digunakan warga selama kemarau berlangsung.

“Kami berharap pemerintah dapat menyiapkan sumber dan distribusi air bersih alternatif selama kemarau berlangsung,” ujarnya.

Kondisi Kapuas memperlihatkan bahwa dampak kemarau tidak berhenti pada penurunan curah hujan. Ketika sumber air berkurang, kebutuhan dasar masyarakat mulai bergeser menjadi persoalan biaya dan distribusi.

Situasi tersebut juga membutuhkan pemantauan terhadap daerah yang paling rentan kekurangan pasokan. Pemerintah perlu memastikan wilayah yang menghadapi gangguan sumber air mendapatkan distribusi yang cukup selama periode kering.

Dengan demikian, kebutuhan air bersih menjadi salah satu persoalan publik yang harus diantisipasi bersama dengan penanganan kekeringan dan karhutla.(KP/*)

error: Content is protected !!