EKONOMIInvestasiNasionalNUSANTARA

Indonesia-Rusia Jajaki Investasi Pabrik Urea di Vladivostok

1
×

Indonesia-Rusia Jajaki Investasi Pabrik Urea di Vladivostok

Sebarkan artikel ini
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan P. Roeslani bersama Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi memberikan keterangan di Vladivostok, Rusia.

JAKARTA – Indonesia dan Rusia membuka sejumlah peluang kerja sama ekonomi setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Vladimir Putin di Vladivostok, termasuk penjajakan investasi Pupuk Indonesia untuk pengembangan pabrik pupuk urea.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan P. Roeslani mengatakan penjajakan investasi tersebut dimulai dengan penandatanganan joint study bersama Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi.

“Baru saja menandatangani joint study,” ujar Rosan.

Studi bersama itu diarahkan untuk melihat potensi Pupuk Indonesia berinvestasi di Vladivostok. Selain pupuk, pembahasan bilateral juga mencakup energi dan sumber daya mineral serta sektor perkapalan.

Rosan mengatakan peningkatan kinerja dan efisiensi Pupuk Indonesia menjadi salah satu dasar untuk melihat peluang ekspansi internasional.

“Performance-nya makin lama makin bagus,” kata Rosan.

Rahmad Pribadi menilai Vladivostok memiliki posisi strategis karena menghadap kawasan Pasifik yang selama ini menjadi pasar penting Pupuk Indonesia.

Kerja sama lain yang dibahas adalah perkapalan. Presiden Putin disebut menawarkan kapal berteknologi mutakhir dengan panjang lebih dari 102 meter yang dapat mendukung pengolahan ikan secara langsung.

“Presiden Putin juga menawarkan untuk perkapalan,” ujar Rosan.

Presiden Prabowo selanjutnya akan mengirim tim untuk mengkaji teknologi kapal tersebut beserta peluang penggunaannya bagi industri perikanan.

Pemerintah menilai rangkaian pembicaraan tersebut dapat memperluas hubungan Indonesia-Rusia dari diplomasi politik ke kerja sama industri dan investasi. Dalam laman resmi Presiden RI, agenda Vladivostok juga disebut mencakup pertanian, energi, pertahanan, investasi, serta perkapalan.

Rosan juga menyebut peluang peningkatan perdagangan kedua negara sejalan dengan pembahasan kerja sama ekonomi yang lebih luas.

“Momentumnya sangat baik,” kata Rosan.

Bagi Indonesia, tahap berikutnya terletak pada hasil studi teknis dan kelayakan investasi. Kesepakatan politik dan kerja sama awal belum otomatis berarti pembangunan fasilitas telah dimulai.(*)

error: Content is protected !!