DAERAHKotawaringin Barat

Tiga Bulan Menunggu, Akhirnya Kumai Diguyur Hujan

5
×

Tiga Bulan Menunggu, Akhirnya Kumai Diguyur Hujan

Sebarkan artikel ini
Hujan akhirnya turun di kawasan Pelabuhan Panglima Utar, Kumai, Kotawaringin Barat. (BK/Suhud Mas’ud)

PANGKALAN BUN – Selama berbulan-bulan warga Kumai menatap langit dengan harapan yang sederhana, hujan. Pada Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 13.30 WIB.

Bagi sebagian orang, hujan mungkin hanya perubahan cuaca. Bagi warga Kumai, ia terasa seperti hadiah setelah berbulan-bulan menghadapi panas, debu, asap dan kecemasan melihat titik api bermunculan.

“Alhamdulillah akhirnya hujan. Tiga bulan terakhir ini kami waswas terus karena titik panas dan kabut asap sering muncul,” kata Herman, warga Kelurahan Kumai Hilir.

Ia berharap hujan mampu membantu memadamkan api yang masih tersisa. Harapan itu datang pada momentum yang tepat.

Sehari sebelum hujan turun, BPBD Kotawaringin Barat masih mencatat penanganan karhutla di Desa Sungai Kapitan, Kecamatan Kumai. Luas area yang ditangani mencapai 8 hektare. Sementara, di Desa Sungai Tendang, petugas juga menangani karhutla pada area sekitar 10 hektare.

Jadi, hujan kali ini bukan sekadar soal basahnya jalan atau segarnya udara. Ia datang ketika petugas masih berhadapan dengan api.

Plt Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kobar, Andhan Santana, sebelumnya mengatakan patroli terpadu terus diperkuat selama periode rawan karhutla.

“Karhutla merupakan salah satu atensi pimpinan daerah,” ujar Andhan.

Menurut BPBD, patroli dilakukan bersama Masyarakat Peduli Api dan relawan untuk memantau daerah yang memiliki potensi kebakaran. Kumai Hilir termasuk wilayah yang masuk dalam jangkauan patroli tersebut.

Masalahnya, api di lahan gambut tidak selalu terlihat seperti api. Ia menjelaskan pengalaman tim gabungan saat melakukan pendinginan di kawasan gambut.

“Di permukaan terlihat sudah padam, namun di kedalaman tanah bara api masih menyala dan terus merembet,” katanya.

Karena itu, ketika hujan turun, petugas tidak otomatis bisa menganggap pekerjaan selesai. Pendinginan dan pemantauan tetap menjadi pekerjaan penting.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak memperbesar risiko kebakaran.

“Mari kita saling menjaga lingkungan, terutama untuk tidak melakukan atau sembarangan membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar,” ujarnya.

BMKG sendiri masih menunjukkan pola cuaca yang berubah-ubah di wilayah Kumai. Prakiraan untuk 8 September memperlihatkan kondisi cuaca tidak seragam antarlokasi di Kecamatan Kumai.

Karena itu, hujan yang mengguyur Kumai hari ini lebih tepat disebut sebagai kelegaan pertama, bukan akhir dari cerita. Petani mendapat air, petugas mendapat bantuan alam, warga mendapat udara yang sedikit lebih nyaman.

Dan untuk sementara, langit Kumai tidak lagi menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu dengan cemas. Ia akhirnya menjawabnya dengan hujan.(Suhud Mas’ud/*)

error: Content is protected !!