PALANGKA RAYA – Kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di Kalimantan Tengah telah mencapai 72.431 kasus hingga pekan ke-33 tahun 2026. Data tersebut menempatkan gangguan pernapasan sebagai salah satu dampak kesehatan paling nyata ketika musim kemarau dan karhutla berlangsung.
Kepala Dinas Kesehatan Kalteng Yaesarwawan mengatakan kondisi musim kemarau dan kabut asap menjadi salah satu faktor risiko.
“Musim kemarau yang disertai kabut asap karhutla menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat,” katanya. Sabtu, 12 September 2026.
Tekanan terhadap layanan kesehatan juga menjadi perhatian pemerintah pusat. Saat mengunjungi fasilitas kesehatan di Kalteng, baru-baru ini. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menekankan kesiapan rumah sakit menghadapi lonjakan kelompok rentan.
“Rumah sakit harus siap, terutama untuk anak-anak dan kelompok rentan,” ujar Gibran.
Gibran juga meminta edukasi pencegahan terus diperkuat di tingkat masyarakat.
“Tolong tingkatkan edukasi masyarakat,” katanya.
Di tingkat layanan, kelompok rentan menjadi sasaran utama perlindungan.
“Dalam penanganan karhutla, menjaga keselamatan dan kesehatan warga … adalah penting,” ujarnya.
Salah satu warga yang ditemui saat kunjungan tersebut, Siti, menilai pelayanan kesehatan yang diterimanya berjalan baik.
“Di sini bagus,” katanya mengenai penanganan pasien.
Kenaikan atau akumulasi kasus ISPA menunjukkan karhutla tidak berhenti sebagai isu lingkungan. Pengendalian asap harus berjalan bersama mitigasi kesehatan, distribusi informasi, dan akses layanan medis.
Langkah berikutnya adalah memperkuat pemantauan ISPA per wilayah sekaligus memadukannya dengan data kualitas udara untuk menentukan intervensi yang lebih cepat.(fit/*)












