MUARA TEWEH — Surutnya Sungai Barito sejak pertengahan Juni 2026 mulai memberi tekanan langsung terhadap distribusi batu bara dari wilayah Kalimantan Tengah. Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng memperkirakan lebih dari separuh pasokan batu bara dari daerah aliran sungai tersebut terganggu sepanjang triwulan III 2026.
Sungai Barito menjadi salah satu jalur utama pengangkutan batu bara dari kawasan tambang di wilayah DAS Barito. Ketika muka air turun, pengiriman melalui tongkang tidak dapat berjalan seperti kondisi normal.
“Sungai Barito mulai surut pada pertengahan bulan Juni sampai saat ini, sehingga banyak perusahaan di DAS Barito terkendala pengiriman batu bara melalui jalur Sungai Barito,” kata Ketua FKTT Kalteng Handry Mardam. Jumat (25/9/2026).
Gangguan tersebut bukan hanya persoalan angkutan. Hambatan distribusi juga berpotensi menekan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban Domestic Market Obligation atau DMO yang telah tercantum dalam RKAB 2026.
“Jika dihitung, pasokan dari DAS Barito ini sekitar lebih dari 50 persen pasokan batu bara terganggu pada triwulan ketiga,” ujar Handry.
Dampak surutnya sungai telah terlihat sejak beberapa bulan terakhir. Pada Agustus, kondisi Sungai Barito di sekitar Jembatan Kalahien, Barito Selatan, bahkan memperlihatkan munculnya hamparan pasir dan daratan di tengah aliran sungai. Penurunan debit juga dilaporkan mengganggu transportasi sungai.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan Sungai Barito telah bergeser dari gejala hidrologis menjadi persoalan logistik dan ekonomi. Namun, estimasi lebih dari 50 persen yang disampaikan FKTT merupakan angka dari pelaku industri, bukan angka produksi atau pengiriman resmi pemerintah.(dn/*)












